Hukum Berdasarkan Perut

    0
    103

    Oleh : Margarito Kamis
    (Dosen FH. Univ. Khairun, Direktur Konsorsium Makuwaje)

    HUKUM, yang bentuk dan isinya telah cukup sering dibicarakan, dimengerti dan difahami orang, tersebar pada berbagai wahana. Hukum-hukum itu yang setiap hari diperbicangkan orang diberbagai kesempatan dan tempat. Perbincangan-perbincangan mereka, sungguh pun tidak selalu, tetapi hampir pasti berkisar pada soal-soal sejenis ini; kasus ini harus begini dan itu begitu. Dalam kasus ini tersangkanya ditahan, tetapi di kasus itu tidak.

    Tidak itu saja acapkali diselingi penilaian yang cukup kritis. Aparaturnya miring, kelimpungan berhadapan dengan calon tersangka yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi. Hukum cuma hebat untuk orang-orang kere, miskin dan renta. Hukum itu mainan orang berduit, dan berkuasa. Orang hukum yang punya berkuasa sangat canggih mengarang argumen menlindungi orang berduit. Itulah yang dipercakapkan orang dipasar-pasar, dipojok jalan.

    Akal Budi
    Mengapa pertanyaan dan penilaian sejenis itu muncul menghiasi tarikan nafas setiap orang hampir sepanjang hari, minggu, bulan dan tahun? Apakah pertanyaan-pertanyaan dan penilaian sejenis merefleksikan bekerjanya akal budi? Bila jawabannya ya, maka soalnya bagaimana menemukan dan menjelaskannya? Apakah akal budi adalah sesuatu yang imanen pada setiap orang? Bila jawabannya ya, dimana akal budi itu bertahta? Di luar jiwa dan diri manusiakah akal budi itu bertahta?

    Bila ada yang memberi jawaban bahwa akal budi muncul menggoda setiap orang karena ada rangsangan dari luar, maka argument itu bersandar pada pandangan filsafat yang menyatakan pengetahuan tidak bersumber dari dalam, dari akal budi, melainkan dari pengalaman. Dalam perspektif itu, pengetahuan tidak lain adalah soal pengalaman, bukan hasil kreasi internal atau rangsangan jiwa yang bersifat bathiniah. Tetapi andai ada yang menyatakan pengetahuan bersumber dari bekerjanya akal budi, maka soalnya bagaimana akal budi bicara?

    Bila pun akal budi diangap immanent dalam setiap diri manusia, maka soalnya bagaimana mengenali dan menghidupkannya? Mengenalinya sudah merupakan bagian, tentu terkecil dari menghidupkannya, karena menghidupkannya memerlukan intensitas perenungan dan konsistensi dengan kualitas tertentu. Tidak mudah, tetapi mengenalinya dengan sunguh-sungguh niscaya akan menghalau kerinduanmu untuk hal lain selainnya.

    Mendengar ceramah-ceramah hukum – harus begini dan begitu – di berbagai majelis, tentu bagus. Tetapi jujur pekerjaan itu terlalu sederhana, kecil dan hampir pasti cuma menyentuh kulit terluar dari 7 lapis kulit dalam setiap soal. Ceramah sejenis hanya menyentuh, sekali lagi, kulit terluar, yang cuma membuat bibir terbuka dan pada akhirnya lincah berucap dalam percakapan hukum kelas tukang tipu. Tidak banyak ceramah hukum yang menghasilkan kesadaran dan kebutuhan pendengar menimbang dirinya sendiri, mengantarkan dana membangkitkan pendengarnya pada kemauan untuk mengetahui dan menentukan nilai dirinya sendiri.

    Akal budi, ya akal budi, sesuatu yang selalu mudah dilafalkan, dan selalu sulit sesulit menghitung dan menggenggam angin untuk ditunaikan. Itu lantaran akal budi bukan wujud. Akal budi adalah esensi, tak mewujud. Tindakan seseoranglah yang menjadi wujudnya, bukan wujud akal budi. Kuketahui semua yang tersembunyi, yang tak teruangkap, yang tak terlihat, kata Dia yang semua mahluk merebahkan tubuh dan jiwanya mensyukuri keberadaannya adalah penanda akal budi.

    Terpukau pada Perut
    Kematian akal budi menghasilkan lupa permanen bagi diri yang menjadi wahana ia bertahta. Bukankah akal budi bertahta dalam jiwa setiap orang? Apa itu jiwa? Nafaskah? Bila nafas, bagaimana akal budi bertahta dalam nafas? Bila bukan dalam nafas lalu dimana? Disitu soalnya. Bisakah ini dijelaskan dalam ceramah-ceramah hukum di majelis-majelis kamisan? Bisa. Tetapi bagaimana metodenya – tarekatnya? Disitu pula soalnya. Tetapi sudahlah. Itu soal rumit.

    Keberanian meluruskan hukum par exelence – hukum positif – bukan pangkal. Keberanian adalah hasil, selalu punya sandaran permanen pada sesuatu yang tak terlihat, tak teraba, dan tak terungkap. Esensi adalah hal yang tak terlihat, tak teraba dan tak terungkap. Kalau esensi diungkap, ia kehilangan sifat esoteriknya sebagai esensi. Yang terungkap adalah tindakan. Keberanian untuk mentersangkakan orang yang memiliki link politik dan uang besar, yang bisa menyuap siapa saja, selalu merupakan puncak pengetahuan tentang akal budi, tentang esensi.

    Kerendahan akal budi menghasilkan aparatur hukum yang terlatih memeras, memelintir, membelokan hukum semaunya sendiri. Silat lidah, akal-akal, karang-mengarang argumen adalah tipikal aparatur hukum berakal budi rendahan. Tipikal ini selalu terlihat lincah, pintar, cekatan dalam perburuan kasus korupsi, penuh gairah mengorek kasus korupsi layaknya tikus got menari-nari di bak sampah. Tipikal ini tak mampu mengenal hal kecil – syukur – sebagai hal terindah yang menjembatani setiap menuju kebahagiaan.

    Rasanya tak mungkin lari, tak usah jauh dari proposisi tentatif betapa problema hukum disekitar hidup ini, termasuk hukum pemerintahan adalah problema aparatur mati rasa, mati akal budinya. Tenggelam dalam perut – rumah top, makan di mall, mobil oke dan lainnya yang sejenis – adalah penyebab terbesar kebangkrutan hukum. Perut memang punya logika sendiri. Logika perut adalah sombong, takabur, suka mencela, iri hati, mau ini dan itu, dan seterusnya.

    Logika perut tak mampu mengenal kalimat ini; Sesungguhnya engkau berbudi luhur, Kata Dia pencipta Adam dan Hawa, untuk Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Perut tak mampu mengenal kalimat indah itu sebagai mahkota hukum. Perut memang tak pernah terpukau nan takjub pada keagungan dan kebesaran Pencipta. Perut jadi biang kebohongan dan kesombongan.

    Baransiapa yang hatinya patah demi kepentinganKu, karena cinta sejati nan abadi pada-Ku, Kata Dia suatu saat, niscaya kujadikan dia kekasih-Ku. Indah sekali bila aparatur hukum bergairah menjadikannya sebagai hiasan bathin dalam menegakan hukum. Indah sekali bila penegak hukum tak terteror dengan potensi miskin, tak punya mobil, rumah mewah, dan lainnya. Toh caranya sangat sederhana. Ikatkan saja diri dan jiwa pada kejujuran, pada syukur, pada ihlas, pada Dia pemilik surga. Beres.

    Aparatur hukum berpalinglah dari godaan perut yang terus bergelora. Perut cuma hebat membuat anda jadi pembohong terlatih dan terampil dengan kaliber tertentu. Jatuh hatilah pada keagungan, pada kebesaran, pada syukur, juga pada ihlas. Jangan berpaling dari jalan indah, jalan spiritual menuju pengetahuan tentang keabadian. Jalan ini memang penuh duri, berliku dan melelahkan. Tetapi dijalan itulah engkau menemukan indahnya hukum, jalan yang memastikan engkau berbeda dari kerbau. Semoga.**

    Jakarta, 26 Oktober 2017
    Hormat Saya,
    Margarito Kamis

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here