Capres Poros Ketiga: AHY dan Zulkifli Hasan

0
60

KORIDORZINE.COM, JAKARTA-Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Zulkifli Hasan muncul dengan elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden dari poros ketiga. Itu pun jika poros ketiga selain dua poros Joko Widodo dan Prabowo Subianto terbentuk.

Hasil survei Political Communication Institute (PolcoMM) menyebutkan, jika poros ketiga dapat dibentuk, dua nama tersebut memiliki elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden.

“Munculnya wacana poros ketiga, yakni Demokrat, PAN, dan PKB, dalam pertarungan pilpres 2019 menjadi alternatif di tengah ketatnya wacana pertarungan dua poros Jokowi dan Prabowo,” tutur Direktur PolcoMM Heri Budianto di Cikini, Jakarta Pusat, Mnggu (25/3).

Heri menjelaskan, pihaknya melakukan survei ke publik terkait adanya poros ketiga tersebut. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap 1.200 orang di 34 provinsi di Indonesia, sebesar 41,15 persen responden memilih pilpres 2019 diperebutkan oleh dua pasang calon.

Sebanyak 37,47 persen menjawab sebaiknya tiga pasang, dan 13,50 persen menjawab tidak tahu. Untuk pilihan satu pasang melawan kotak kosong, ada sebanyak 7,78 persen.

Meski demikian, sebanyak 30,45 persen responden meyakini poros ketiga tersebut akan terbentuk untuk mengikuti kontestasi pilpres 2019. Angka tersebut unggul dari jumlah yang menjawab tidak yakin terbentuk, yaitu 20,19 persen, tetapi masih kalah dari jumlah responden yang menjawab tidak tahu, sebesar 49,36 persen.

Jika poros ketiga terbentuk, responden memilih AHY sebesar 21,00 persen dinilai pantas untuk diusung sebagai capres. Posisi kedua, Zulkifli Hasan sebesar 15,33 persen, Gatot Nurmantyo sebesar 12,33 persen, Mahfud MD 10,25 persen.

Untuk cawapres, para responden menilai Zulkifli Hasan pantas diusung dengan persentase 21,25 persen. Posisi berikutnya diisi AHY sebesar 19,25 persen, Gatot Nurmantyo 17,17 persen.

Dalam melakukan survei, PolcoMM menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi. Survei dilakukan pada 18 Maret-21 Maret 2018 dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error sebesar 2,83 persen.

Dari hasil survei, nama Joko Widodo dan Prabowo masih menjadi dua kandidat dengan elektabilitas tertinggi. Saat diajukan pertanyaan siapa yang akan dipilih responden pada pilpres 2019 mendatang, Jokowi memperoleh 49,08 persen disusul Prabowo sebesar 29,67 persen. Sementara, calon lain masih jauh di bawah keduanya.

Namun, saat ini, pertanyaan yang menarik justru terkait siapa yang paling berpotensi menjadi calon wakil presiden Jokowi maupun Prabowo. Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga menilai, siapa yang menjadi wapres di 2019 nanti kemungkinan besar akan menjadi calon presiden (capres) di 2024 mendatang.

“Kemungkinan untuk menjadi capres 2024 paling besar itu adalah wapres di 2019. Dalam hal ini, partai-partai juga berkepentingan supaya starting point semuanya sama,” tutur Eriko.

Selain itu, Eriko juga menuturkan pandangannya terhadap munculnya poros ketiga dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. Menurut dia, ada tiga faktor yang mengecilkan kemungkinan poros ketiga ini dapat terealisasi.

Pertama, kata dia, karena pemilihan legislatif (pileg) dan pilpres dilakukan secara serentak. Banyaknya kertas suara yang akan dibawa para pemilih ke dalam bilik pencoblosan membuat mereka tak memiliki banyak pilihan. “Bayangkan, itu nanti kertas suara ada lima, DPRD tingkat dua, tingkat satu, DPR RI, DPD, dan presiden,” katanya.

Faktor kedua yang menurutnya cukup penting dalam menentukan poros ketiga adalah elektabilitas calon. Menurut Eriko, partai pasti memperhitungkan peluangnya memenangkan pemilu dalam membentuk poros dan mengusung calonnya berdasarkan elektabilitas. Tidak ada satu partai pun yang ingin mengajukan calon lalu kalah.

Faktor berikutnya adalah tak ada satu partai pun yang bisa mencalonkan capres sendirian. Partainya pun ia nilai tak mungkin mencalonkan satu nama seorang diri, minimal harus dua partai. Itu terjadi karena berlakunya presidential threshold atau ambang batas pengajuan calon presiden sebesar 20 persen.

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, partainya akan memunculkan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2019. “Di PKS ada tiga yang dilakukan, yang pertama memunculkan capres-cawapres karena Pemilu 2019 paling istimewa serta pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden yang berbarengan,” katanya.

Menurut dia, mengingat pelaksanaan pemilihan anggota legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden yang bersamaan pada Pemilu 2019, secara teori, siapa yang menjadi capres-cawapres berpeluang besar membawa gerbong untuk pileg. “Itu strategi pertama, karena itu PKS per 14 Januari 2018 sudah memutuskan ada sembilan nama untuk capres-cawapres dan sekarang sedang bekerja,” kata Mardani. (rol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here