Senda Gurau Politik

    0
    185

    Oleh: Aria Iriandi Roeys

    Alumnus Universitas Indonesia

    Dunia Politik adalah lahan senda gurau dan permainan. Oleh karena itu, Gus Dur pernah mengatakan sebuah kekuasaan tidak perlu dibela mati-matian. Kalimat ini tentunya tidak sembarangan diucapkan oleh seorang Gus Dur, sebagai ulama besar dan mantan presiden, ucapannya tersebut merupakan nasehat dan petuah bagi sebuah bangsa yang kaya akan suku dan beragam perbedaan yang ber-Bhineka Tunggal Ika.”  

    PEMILU 2019 takkan lama lagi, partai-partai politik sibuk mencari pasangan koalisi, proses tawar-menawar posisi kabinet jadi transaksi politik yang melijit, entah ketua umumnya  yang bakalan duduk sebagai ca-wapres, sekjen partai duduk sebagai menteri ataukah tim suksesornya yang didapuk sebagai komisaris di BUMN, atau dijadikan dubes. Itu semua bisa dipilah dan dipilih sesuai selera dan style politik si politician.

    Dalam beberapa minggu terakhir, lingkungan di sekitar kita banyak diramaikan oleh lalu-lalangnya pembicaraan tentang politik. Bahkan di tembok dan bahkan pohon sepanjang trotoar pinggir jalan hingga pelosok kampung terpasang spanduk dan poster wajah-wajah calon penguasa. Fenomena inilah yang kemudian menjadikan politik sebagai nadi kehidupan yang hadir dalam obrolan warung kopi sebagai senda-gurau yang sebenarnya perlu diperhatikan karena menentukan nasib perpolitikan untuk lima tahun kedepan. Apakah pemilu bisa merubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik atau tidak?

    Selama proses politik dijalankan secara santun, bersih dari intrik-intrik kejahatan politik (kejapol) dan penyelenggara pemilu yang jujur dan amanah, demokrasi bisa terjaga. Akan tetapi bila proses meraih kekuasaan sengan cara-cara yang tidak baik, bisa saja membahayakan keberlangsungan demokrasi. Apakah proses politik bisa santun sebagimana harapan kita semua?

    Senda-gurau saling meledek kian menjadi-jadi. Masyarakat terbelah (opposition binarry) yang satu ingin ganti presiden di tahun 2019, satunya lagi menginginkan biarlah presiden diganti di tahun 2024. Dalam polarisasi seperti ini, anda berada di posisi yang mana, pendukung incumbent ataukah menginginkan seorang pemimpin yang baru? Entah itu Prabowo atau Gatot yang vis a vis di gadang-gadang menjadi lawan kuat Jokowi nanti.

    Tentunya saling serang antar kedua kubu semakin panas, baik di dalam parlemen, di acara car free day (cfd), sadap-menyadap hingga bila tak kuat pasti di santap, hingga pada mainstream media massa. Ada media yang pro pemerintah maupun media yang hobi-nya meng-olok-olok si empuhnya eksekutif.

    Panas dingin politik naik-turun, saling menjatuhkan kian menjadi tren; salah ambil kebijakan bakal disikat oposisi; bila rupiah berdarah-darah dihantam dolar, siap-siap saja tim ekonomi pemerintah bakal di kuliti habis-habisan. Salah bicara, salah ambil kebijakan, salah apa saja; bisa diplintir oleh lawan-lawan politik dan ujung-ujungnya saling lapor pada berwajib. Siapa yang benar dan siapa yang salah kian kabur.

    Ruang publik, ruang pemerintahan, tempat-tempat ibadah menjadi lahan politisasi dan saling serang, saling hantam, saling hajar yang kian memporak-porandakan toleransi dan tenggang rasa. Balaikota dijadikan tempat berdiskusi bermuatan politik dan tempat sembahyang disusupi ceramah yang saling menjatuhkan. Inilah senda-gurau politik yang keblinger. Demokrasi yang seharusnya menyehatkan terkena kanker  stadium akhir mematikan.

    Kondisi  seperti ini menghiasi berita-berita populer di tanah air, kesejukan politik kian hilang. Amarah dan nafsu kekuasaan menjadi wacana dan tabiat politisi yang tak pernah kenyang dalam perang dingin antar sesama. Namanya kekuasaan perbedaan selalu dinomorsatukan, persamaan dikesampingkan. Silaturahmi bisa dicerai-beraikan. Yang tua dan muda tidak saling menghormati, antar sesama kian redup bagai air susu yang diceburi setetes zat kimiawi yang mematikan dan tidak ada kemanfaatan.

    Politik perbedaan kian memporak-porandakan masyarakat. Situasi politik tidak menyejukan. Kesempatan membangun sebuah negara harus-nya mengedepankan kegotong-royongan, saling memberi dukungan dan mengkritisi secara benar, terukur dan terverifikasi juga solutif. Bukannya sebaliknya. Perbedaan kian membuat masyarakat tidak peka terhadap masalah sosial kemasyarakatan di antara sesama mapun lawan politik.

    Proses Politik idealnya mengarah pada silaturahmi, toleransi, penyampaian ide-ide yang kreatif dan penghormatan pada individualitas, komunitas dan kebersamaan hakiki yang lebih maha luas. Yang kuat melindungi yang lemah; hukum yang tidak memihak dan pemberantasan korupsi yang sungguh-sungguh dijewantahkan dalam praksis sehari-hari.

    Pada kondisi carut-marut seperti ini, siapa kawan dan siapa lawan terpetakan, yang pro petahana dan oposisi berada posisi yang jelas. Aktor-aktor kawakan di lapangan maupun balik layar menyiapkan strategi yang bisa saling menjatuhkan hingga babak belur. Perang kata-kata tak terhindarkan, kekuatan modal kuat terus bermain secara senyap.

    Senda-gurau berubah menjadi malapetaka tatkala praktik-pratik politik menimbulkan korban-korban jiwa. Penculikan, intimidasi, proses dimiskinkan dan terjerambab dalam penjara menjadi pilar-pilar anti demokrasi yang pahit. Kondisi seperti ini banyak terjadi di banyak negara, bahkan di negeri ini.

    Kebiasaan berpolitik secara santun wajib dikedepankan, menjadikan oposisi sebagai sebagai kawan dan bukan lawan. Kekuasaan yang tidak koruptif dan proses pembangunan yang merata adalah kondisi ideal yang ingin dicapai oleh (nawacita) sebuah negara.

    Komunikasi politik yang terjalin bukan saling serang yang ujung-ujungnya makin memanas dan menimbulkan kekisruhan di tataran elite yang bisa berdampak kegaduhan di masyarakat. Ruang percaturan politik memiliki area ketegangan yang harusnya memunculkan permufakatan orang banyak, sehingga legitimasi politik terjaga.

    Pemilu tahun depan tak terasa begitu cepat, persiapan dengan cara yang legitimatif, formal, informal bahkan frontal (semoga tidak in-konstitusional)masing-masing partai politik baik di pusat kekuasaan hingga periferi terus dilakukan. Pundi-pundi modal telah disiapkan, media-media sosial yang tugasnya mempengaruhi publik dengan informasi-informasi benar maupun palsu tak terhindarkan bakal terjadi. Panas-panas pemilu menjadi barometer kedewasaan berdemokrasi ala Melayu. Siapa mendapat apa dan bagaimana cara mendapatkannya? Halal-haram berada pada pondasi yang semu. Itulah senda gurau politik yang menarik ‘tuk kita ikuti dan ditelusuri secara bijak.

    Hingga  kini senda-gurau politik menjadikan rakyat hanya sebagai permainan dan elite partai sebagai pihak yang menikmati profit-profit kekuasaan. Dalam praktek kekuasaan,  itu hal yang lumrah bagi  tim sukses (timses) atau pihak kreditur yang mengisi saku-saku atm penguasa yang bertarung. Posisi seperti ini, masyarakat dikelola secara terorganisir, diajari, dikasih duit untuk melakukan hal-hal untuk saling menjatuhkan. Dengan uang lima puluhribu, sebagian warga bisa dimobilisasi, diplintar-plintut untuk lakukan perlawanan-perlawanan politik.

    Aksi-aksi politik memobilisasi warga dengan cara-cara berpolitik uang, membawa dampak buruk apalagi, anak-anak dibawah umur hingga balita di bawa-bawa dalam kegiatan-kegiatan politik yang semestinya tidak dilakukan.  Praktik-praktik ketidakbijaksanaan kian terjadi dan imbasnya merugikan masyarakat dan menguntungkan bagi elite sengkuni yang pragmatis terhadap jabatan politik.

    Menurut Voegelin dalam Economic Age, History and Order, ‘Walau hidup bagaikan senda-gurau itu bukan permainan, butuh keseriusan ‘tuk menata politik bangsa yang penuh dengan simbolisme, multikultur, dan pembelajaran demokrasi. Senda-gurau politik tidak semata identik dengan adu argumentasi atau berdebat, tetapi identik dengan akal budi manusia yang mengeksplorasi keluhuran martabat yang simpati satu sama lain. Menurut anda?***

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here