Pengaruh Gadget dan Masa Depan Generasi Muda

    0
    134
    Saat ini banyak teknologi negatif yang mengancam generasi muda

    Oleh : Siti Aisyah

    PERGAULAN bebas bukan lagi hal yang lazim dikalangan remaja saat ini, mulai dari anak perkuliahan sampai SMP, bahkan anak SD mulai mencoba-coba. Berbagai permasalahan dalam pergaulan remaja  seakan tidak ada hentinya.

    Belum lama ini misalnya, digemparkan dengan berita  12 siswi disalah satu  SMP di Lampung hamil. Di Cikarang,  tindakan asusila dilakukan melalui grup whatsapp. Grup yang beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas itu, diketahui  saat salah satu anggota grup terkena razia  guru. Dalam razia  berbagai percakapan tidak senonoh,  video porno dan ajakan asusila, bahkan ajakan melakukan tawuran ada dalam grup itu.

    Tak hanya  Lampung dan Cikarang, kenakalan remaja dan pergaulan bebas  merajalela diberbagai pelosok negeri ini. Di Garut, Jawa Barat, terdapat grup FB gay yang diikuti  siswa SMP dan SMA yang  jumlahnya  mencapai 2.600 orang (Kompas.com. 6/10).

    Tak bisa  dipungkiri bahwa pergaulan bebas  marak terjadi dikalangan remaja. Banyak   remaja yang terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa hal itu akan merusak  dan mengancam masa depan mereka dan  bangsa ini.

    Generasi muda merupakan aset masa depan sebuah bangsa yang akan menjadi pemimpin dan pengelola bangsa. Apabila generasi  mudanya baik, maka masa depan umat dan bangsa baik. Sebaliknya  generasi mudanya rusak maka masa depan umat dan bangsa akan suram.

    Maraknya pergaulan bebas tidak terlepas dari peran media, terutama media digital (gadget) yang bisa diakses siapapun dan kapan pun. Gadget dikalangan remaja tidak hanya sebatas media komunikasi, tetapi  menjadi alat multi fungsi. Kebebasan berselancar tanpa kendali mengakses situs-situs porno  tanpa merasa berdosa. Pacaran, free sex, bahkan aborsi sudah  biasa di indra. Mereka  tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, menujukkan kerusakan generasi sudah  di depan mata.

    Gadget sebagai salah satu produk teknologi bersifat universal. Siapa pun boleh menggunakan dan memperoleh manfaat positif dari keberadaannya. Namun di era globalisasi yang serba bebas ini, media tidak terbebas dari nilai-nilai dan gaya hidup tertentu. Hal itu bisa bersumber dari ideologi  yang melahirkannya.

    Baik burukya pengaruh media terhadap masyarakat sangat tergantung pada ideologi yang menghadirkannya. Pakar globalisasi Prof. Amer Al-Roubaie menyatakan,  telah dipahami secara luas bahwa trend budaya global sebagian besar merupakan produk barat yang menyebar keseluruh penjuru dunia lewat keunggulan teknologi elektronik dan berbagai bentuk media lainnya.

    Begitu pula Al-Robaie  mengajak kita menyadari bahwa hegemoni industri film Amerika dan berbagai stasiun TV-nya telah mendominasi pembentukan budaya global. Hal ini membuktikan media-media produk kapitalis terbukti merusak.

    Napoleon Bonaparte pernah berpesan kepada pasukan perang salib ketika umat Islam menangkapnya dalam peperangan Salibiyah ke negeri Mesir. Bahwa umat Islam tidak mungkin bisa dilawan dengan senjata,  tetapi dengan cara perang pemikiran. Olehnya itu para kafir barat akan senantiasa  berusaha  meracuni pemikiran kaum muslim dengan  berbagai cara agar tunduk dan patuh terhadap mereka. Diantaranya melalui media dan sistem pendidikan.

    Dalam sistem pendidikan sekuler, mata pelajaran agama Islam dipisahkan dari mata pelajaran umum dan hanya mendapat jatah waktu yang singkat. Akibatnya para siswa tidak paham bahwa zina adalah dosa besar yang tidak boleh dilakukan. Begitu pula dengan remaja-remaja muslim yang terkenal menjaga kemuliaan diri, seakan telah kehilangan jati dirinya sehingga melakukan perbuatan-perbuatan keji.

    Dalam sistem sekuler kapitalistik, rakyat dibiarkan bertarung sendiri melawan kerusakan akibat dari media yang memberikan sajian intensif yang mendorong pada kemaksiatan. Tuntutan rakyat kepada negara agar tegas menutup semua situs-situs porno yang merusak justru ditanggapi ala kadarnya.

    Di sistem sekuler, keberadaan media merupakan perwujudan dari kebebasan dan Hak Asasi Manusia. Hal ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja untuk menhancurkan peradaban  umat manusia. Maka jelas solusi dari sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan pergaulan bebas secara tuntas.

    Semua problematika yang dihadapi umat manusia tak terkecuali problem pergaulan bebas  remaja, solusinya hanya satu yaitu Islam. Islam adalah agama sekaligus aturan hidup yang komprehensif yang mampu memecahkan segala permasalahan manusia dan pastinya sesuai dengan fitrah manusia.

    Solusi pergaulan bebas diantaranya, pertama, membangun aqidah, dimana sejak kecil anak-anak sudah ditanamkan aqidah Islam dengan mantap oleh keluarga yang merupakan pihak pertama dan utama, sehingga ketika remaja sudah terikat dengan syariat secara keseluruhan. Mengetahui hukum pergaulan antara laki-laki dan perempuan, maka mereka akan senantiasa menjaga pandangan, menjaga aurat dengan  menutup auratnya secara sempurna, menjauhkan diri dari ikhtilat (campur baur) dengan lawan jenis dan khalwat (berdua-duaan) dengan lelaki yang bukan mahromnya. Sehingga terjauhkan dari hal-hal yang mengantarkan pada maksiat.

    Kedua, masyarakat dibentuk menjadi masyarakat  Islami yang terus melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan). Masyarakat tidak tinggal diam melainkan saling mengingatkan ketika melihat kemaksiatan nyata di depan mata.

    Ketiga, sistem pendidikannya  harus sistem pendidikan Islam yang akan mencetak generasi berkepribadian islam. Keempat,  peran pemerintah dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum, pemerintah dalam pandangan Islam harus melakukan berbagai upaya untuk mencegah pergaulan bebas terjadi. Karena pemeritah memiliki kewajiban untuk mencegah warganya melakukan tindakan yang dilarang Allah SWT. Dalam Islam media-media yang memamerkan aurat baik aurat perempuan ataupun laki-laki akan dilarang. Berita yang mengajak kepada kemaksiatan tidak boleh ditayangkan.  Media dalam Islam hanya akan menyebarkan informasi yang edukatif.

    Dalam Islam seorang yang melakukan zina, jika belum menikah akan dijatuhi hukuman cambuk 100 kali. Namun jika sudah menikah hukumannya dirajam. Hukuman dilaksanakan di depan khalayak umum sehingga mencegah yang lainnya berbuat serupa. Selain itu, pelaku akan mendapat ampunan Allah dan tidak mendapat siksaan diakhirat yang disebabkan karena dosa zina.  Seluruh solusi Islam ini hanya mampu dilaksanakan secara sempurna apabila negara menjadikan Islam dalam sistem pemerintahannya. Wallahu’alam biasawab. (***)

    Penulis, Mahasiswi Jurusan Kimia Universitas Khairun Ternate

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here