Pemuda dan Kontestasi Politik 2019

    0
    124
    Sukur Suleman

    Oleh : Sukur Suleman

    PERINGATAN hari Sumpah Pemuda ke-90 tanggal 28 Oktober 2018  baru saja  kita lewati,  memiliki arti penting bagi pemuda. Peringatan Sumpah Pemuda dengan thema : Bangun Pemuda Satukan Indonesia, maka sudah saatnya pemuda menunjukkan peran bukan sebagai motor tetapi sebagai lokomotif dalam perubahan sosial  untuk Indonesia yang maju, sejahtera dan berkeadilan.

    Pemuda dimasa lalu merupakan kekuatan politik paling menonjol.  Mengutip Anderson dalam  bukunya, Java in a Time Of Refolution : occupation and Resistence,  pemuda merupakan kekuatan politik yang paling menonjol pada masa revolusi menjelang dan setelah kemerdekaan.  Brgitu pula  pada masa-masa transisi politik penting seperti tahun 1966 dan tahun 1998, kaum muda senantiasa menjadi kekuatan politik yang sangat menentukan.

    Sejarah bangsa-bangsa mencatat, peran penting kaum muda dalam perubahan politik. Revolusi pemuda di Prancis tahun 1968 yang kemudian digerakkan bersumber dari kreativitas dan keberanian politik kaum muda. Karena itu, Bung Karno pernah mengatakan, beri aku 10 pemuda, maka aku akan mengguncang dunia.

    Pemuda sebagai kelompok strategis memiliki  peran penting dalam setiap perubahan, akan  memberikan kontribusi berbagai upaya terobosan yang diperlukan untuk mewujudkan perubahan secara menyeluruh di republik ini. Menegembalikan arah bangsa  pada relnya sesuai  cita-cita nasional yang dirumuskan  para pendiri bangsa ini (the founding fathers). Pemuda senantiasa menjadikan politik sebagai media perjuangan untuk keseluruhan ummat manusia.

    Dalam konteks Maluku Utara, perubahan politik hanya mungkin dilakukan dengan semangat meningkatkan pendidikan politik  kepada  rakyat, tanpa itu, cita-cita menciptakan politik yang sehat dan demokratis masih jauh dari harapan. Kaum muda dituntut  mengisi peran-peran politik sebagai   wakili rakyat dalam parlemen 2019.

    Kaum muda harus tampil dengan visi yang unggul sebagai wujud merubah daerah ini menjadi lebih baik. Membiarkan  orang-orang punya  dosa social  menduduki parlemn, maka  wajah politik Maluku Utara tetap akan didominasi  aktor-aktor yang rendah kualifikasi moral. Ujung-ujungnya,  akan mencederai demokrasi di  Maluku Utara yang kita cintai ini.

    Maluku Utara saat ini memerlukan aktor-aktor politik yang memiliki kelebihan  ilmu pengetahuan, memiliki ahlak dan moral yang baik (berbudi pekerti yang luhur), dapat diteladani, menjadi sumber sosialisasi nilai-nilai kebaikan antara ucapan dan perbuatan. Sebab itu, kaum muda yang hendak masuk dalam kekuasaan harus membekali diri dengan nilai-nilai moralitas yang baik, mampu beramanah dan menjadi solusi atas persoalan di daerah ini.

    Pemilihan legislative 2019 mendatang akan menjadi sejarah, apabila pemuda  memilik integritas tinggi, nilai-nilai moralitas,  mengisi  kursi parlemen. Sebab rakyat Maluku Utara  menggantungkan  pemuda menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat yang diwakili.

    Masyarakat Maluku Utara sudah mampu menilai pemimpin dari sisi  moral,  akhlak,  kejujuran dan   adil  dalam bertindak. Pemimpin yang menjadi teladan bagi masyarakat,  bukan pemimpin  yang melakukan perbuatan tercela dan melanggar hukum seperti  korupsi dan  menyalahgunakan  jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

    Pemimpin ideal adalah pemimpin yang memiliki harga diri  dan bermartabat. Pemimpin yang akan menjadi dambaan  masyarakat. Bukan pemimpin mengingkari komitmen moral dan kejujuran, beda ucapan dan perbuatan.

    Sebab itu, kaum muda sudah saatnya menjadi  alternatif pemecah masalah,  bukan menjadi sumber persoalan baru. Dengan idealisme dan visi masa depan,  mengembalikan nilai-nilai budaya bangsa yang hilang tanpa meninggalkan kecendrungan perubahan pada ranah global. Namun patut diingat oleh kaum muda, visi yang baik harus didukung  tingkah laku yang terpuji dan akhlak  yang mencerminkan visi tersebut. Menjaga  komitmen dalam berjuang, dan konsisten dalam tindakan dan ucapan. Wallahu’alam bissawab. (***)

    Penulis, Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP UMMU

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here