Lagi, David Tobing Gugat Garuda Indonesia karena TV Bangku Tidak Menyala

0
11
Dr. David Tobing kembali melayangkan gugatan terhadap Garuda Indonesia karena tv di bangku pesawat tidak menyala. Foto : istimewa

KORIDORZINE, JAKARTA – Lagi, penggiat perlindungan konsumen dan juga Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), Dr. David Tobing menggugat PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda Indonesia) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pakar Hukum Konsumen itu mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) melalui kuasa hukumnya Muhamad Ali Hasan, SH.  Gugatan tersebut telah teregister di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor 433/PDT.G/2019/PN.JKT.PST.

TV bangku di pesawat Garuda Indonesia tidak menyala. Foto : Istimews

Gugatan ini bermula ketika pada kamis 25 Juli 2019, David selaku penumpang Garuda rute penerbangan dari Pontianak menuju Jakarta merasa dirugikan akibat monitor di bangku tempat duduknya tidak bisa dihidupkan. Merasa keberatan dengan hal tersebut David mengajukan komplain kepada awak kabin yang kemudian awak kabin menjelaskan bahwa benar monitor tersebut tidak bisa dihidupkan dengan alasan setingan baru. Selain itu pada monitor tersebut terdapat stiker bertuliskan “Monitor IFE dimatikan/ IFE Monitor Deactivated”.

Menurut David, Garuda tidak bisa hanya berdalih seperti itu kepada penumpang karena Garuda Indonesia adalah maskapai dengan pelayanan standar maksimum (full services) maka sudah menjadi kewajiban bagi Garuda untuk menyediakan fasilitas yang salah satunya berupa media hiburan.

“Sebagai maksapai dengan pelayanan full services, pihak Garuda seharusnya tidak boleh menjual tiket untuk bangku yang monitornya tidak bisa dihidupkan/rusak karena hal tersebut melanggar ketentuan Pasal 30 ayat (1) Permenhub 185 Tahun 2015 yang mewajibkan maskapai dengan pelayanan full services untuk menyediakan fasilitas diantaranya berupa media hiburan,” ujar David.

Selain menggugat Garuda Indonesia, dalam gugatannya David juga menjadikan Menteri Perhubungan Republik Indonesia sebagai Tergugat II.

“Menteri Perhubungan telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum karena tidak melakukan Pengawasan kepada Garuda Indonesia dengan membiarkan Garuda menjual tiket pesawat dengan pelayanan standar maksimum, namun pada faktanya fasilitas yang didapatkan tidak sesuai dengan harga tiket yang dibayarkan untuk pelayanan maksimum,” kata David Tobing.

Dalam petitumnya David menuntut gar majelis hakim PN Jakarta Pusat mengabulkan gugatannya dan menghukum Garuda untuk memberikan ganti rugi materil kepada Penggugat berupa 1 (satu) buah tiket pesawat kelas ekonomi untuk rute penerbangan dari Pontianak menuju Jakarta dengan media hiburan yang berfungsi dengan baik.

Selain itu, David juga memohon majelis hakim memutuskan agar Garuda memberikan ganti rugi imateril kepadanya sebesar Rp. 100,- (seratus rupiah).

Dalam gagatannya, David juga memohon agar majelis hakim PN Jakarta Pusat memutuskan agar Menteri Perhubungan memberikan sanksi kepada Garuda untuk tidak menjual tiket pesawat yang tempat duduknya tidak dilengkapi media hiburan.

Lebih lanjut David mengatakan bahwa tujuan gugatan ini selain untuk penegakan hukum dan aturan juga untuk mengingatkan Garuda agar melindungi hak-hak konsumen yang sudah membayar harga tiket dengan pelayanan maksimal.

Sementara itu, menanggapi gugatan David Tobing ini, Vice President Corporate Communication Garuda Ikhsan Rosan mengaku siap memenuhi panggilan pihak PN Jakarta Pusat dan akan mengikuti prosedur hukum.

Menurut Ikhsan, pihaknya masih menunggu surat panggilan resmi dari pihak pengadilan. Pihak Garuda sendiri, menurutnya, meminta maaf atas ketidaknyamanan David Tobing dan penumpang lainnya atas insiden ini. (AR/RED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here