Bambu Hitada, Karya Leluhur Yang Terlupakan, Kini Bangkit Meraih Rekor MURI dan Tampil di Istana Negara

0
72
KORNELIS EL,SPd. Guru Seni Musik yang pertama kali melestarikan musik tradisional bambuhitada di sekolah dan perlombakan di Pulau Morotai. Foto : Halil

KORIDORZINE, MOROTAI – Kornelis El, SPd, sosok seorang guru asal Tual Maluku yang tidak asing lagi di mata masyarakat Pulau Morotai. Guru yang mengabdi di pulau Morotai puluhan tahun silam. Mulai tahun 1979 hingga tahun 1999, Kornelis mengajar mata pelajaran seni musik di SMP Negeri Daruba, Madrasah Tsanawiyah Gotalamo, SMP Kristen Daruba, SMA Negeri 1 dan SMA Muhammadiah Gotalamo.

“Walaupun saya lahir di Tual, namun jiwa ini lebih menyatu dengan orang Morotai dari pada orang Tual, karena sejak umur saya 15 tahun sudah daftar sekolah di Ambon dan kurang lebih 20 tahun saya mengabdi di Bumi Moro. Jadi maju mundurnya perkembangan morotai saya ikuti terus,” ucapnya saat mengawali komentarnya.

Pendidik karismatik, bersahaja, lantang dan tegas ini coba menceritakan saat pertama kali melestarikan musik tradisional Bambu Hitada di pulau Morotai. Kemudian nyaris hilang dan kini disemarakan kembali Pemkab Morotai untuk meraih rekor MURI dengan menampilkan pemain terbanyak, yakni 2019 orang di Festival Morotai 2019 dan mendapat kehormatan untuk tampil di istana negara pada HUT RI ke 74 di Jakarta.

“Musik Bambu Hitada saat itu, hanya merupakan permainan anak anak morotai di sejumlah desa, bunyi nadanya juga berbeda sesuai ukuran bambunya. Kemudian dipadukan dalam tehnik memainkan melalui satu komando sehingga menghasil musik yang unik dan asyik di dengar. Pada umumnya musik bambuhitada di mainkan di kampung kampung nasrani saat merayakan tahun baru bersamaan dengan musik yanger,” kenang Lelaki kelahiran 63 tahun silam, kepada Koridorzine, Rabu 30 Juli 2019

Lanjut Pak El, demikian sapaan akrab guru seni musik ini di kalangan siswa siswinya. Melihat kondisi tersebut dirinya bersama teman teman guru saat itu merangkul dan melestarikan musik bambuhitada melalui sekolah dan setiap lomba HUT kemerdekaan RI.

Seingat saya, selanjutnya dikisahkan Lelaki kelahiran Tual Maluku ini, waktu itu sejumlah siswa dari desa darame dan daruba yang mainkan musik bambu tada ini, selalu membawakan lagu-lagu mars. Mulai saat itu kita mulai galakan di sekolah dan sampai dilombakan. Panggung gedung MTQ sampai pecah, sehingga selanjut panggungnya dialas dengan karung goni, karena terutama basnya menggunakan bambu besar.

“Saya ingat betul Pada tahun 1980-an, kami mengadakan lomba musik bambu tada pertama kali di gedung MTQ, di ikuti oleh sejumlah desa dan desa Darame keluar sebagai juara 1, Juara 2 diraih desa sambiki dan desa leo leo menyabet juara 3. Sejak itu musik bambu tada semakin semarak di mainkan baik saat tahun baru, Idul Fitri dan di setiap lomba tujuh blasan,” terangnya.

Disebutkannya, panitia lomba 17 Agustus saat itu untuk seksi kesenian adala Ketuanya Almarhum Pak Guru Hairudin, Anggota Almarhum Pak Guru Taweru, Ibu Guru Djawa, Almarhum Pak Guru Salawati dan saya sendiri.

Lanjut Kornelis El mengisahkan, musik bambu tada yang di kolaborasika dengan yanger kemudian menjadi musik pemersatu masyarakat Morotai terutama pemeluk agama nasrani dan muslim saat itu. Bila tiba lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat nasrani menggunakan alat musik tersebut untuk bersilaturahmi dengan saudara saudara muslimnya, demikian sebaliknya dengan musik kasidah. Sehingga hubungan kekeluargaan begitu kental saat itu “musik bambu tada dan kasidah kami bawa ke sekolah sebagai mata pelajaran seni musik, juga sebagai alat pemersatu umat, Kondisi itu yang hilang saat ini,” ungkapnya lirih, sambil matanya berkaca kaca.

Bahkan Guru Kesenian yang mengabdi di Morotai sejak umur 22 tahun ini. Menyesalkan bila warisan musik bambu tada dari leluhur orang morotai itu, saat ini nasibnya ibarat hidup segan mati tak mau. Namun, setelah mendapat kabar bahwa akan di lestarikan dan di promosikan Pemkab Morotai saat ini melalui Festival Morotai 2019 dan akan tampil di istana negara di Jakarta, menjadi satu kebanggaannya. “Sebuah kombinasi bunyi nan indah yang hampir terlupakan, sekarang segera akan tercatat di Rekor MURI, sebagai pemain bambu Tada Terbanyak Pertama di Indonesia Dan lanjut diundang ke Istana, saya sangat bangga dengan Morotai,” celotehnya

Sang guru kesenian yang sudah lansia tetapi tetap awet muda ini. Dirinya merasa sangat senang karna musik tradisional yang pernah di rintis tidak hilang ditelan waktu. “Pesan untuk Pemda Morotai, bahwa musik tradisional di morotai perlu di gali dan di kembangkan, bila perlu segera di daftarkan sebagai hak cipta musik has morotai. dan masukkan ke sekolah sekolah sebagai mutan lokal agar terus dilestarikan generasi selanjutnya,” harapnya. (LIL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here