Festival Morotai 2019 Resmi Dibuka

0
30
Festival Morotai 2019 resmi dibuka oleh Wakil Bupati Pulau Morotai Asrun Padoma. Foto: Halil

KORIDORZINE, MOROTAI – Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai secara resmi membuka rangkaian kegiatan Festival Morotai 2019 bertajuk “Land Of Stories” pada Jum’at, 2 Agustus 2019.

Pembukaan itu dilaksanakan di lokasi eks Sail Morotai, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, oleh Wakil Bupati Pulau Morotai Asrun Padoma.

Tarian adat Cakalele menjadi pembuka gelaran itu sekaligus sebagai tanda penyambutan terhadap Wakil Bupati Serta tamu undangan, kemudian di lanjutkan dengan pembacaan laporan panitia.

Pada kesempatan itu wakil Bupati, Asrun Padoma, menyampaikan bahwa Festival Morotai Merupakan Salah Satu event Nasional dari 100 Calender of Event yang sangat bergensi di tetapkan oleh Kementerian Pariwisata pada Tahun 2019. Hal itu juga sebagai wujud Komitmen Pemerintahan Jokowi memajukan Perekonomian Kabupaten Pulau Morotai melalui sektor utama yakni perikananan, pertanian dan kepariwisataan.

Wakil Bupati Asrun Padoma mengatakan, pada tahun 2012 silam, di Kabupatwn Pulau Morotai juga telah diadakan Sail Morotai yang merupakan Langkah Awal Menuju Era Baru, dimana Menghantarkan Morotai ditetapkam sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN) dan 10 Destinasi Prioritas atau 10 Bali Baru.

Namun, lanjut Asrun, impian besar masyarakat saat itu sempat terhenti dengan berbagai problem yang saling berganti, mulai dari problem politik yakni isu pergantian bupati saat itu, sampai dengan komitmen pembanguna yang lemah atau tertinggal sehinggah hampir saja tereliminasi atau degradasi dari sebuah kompetisi global.

Lebih lanjut dikatakan mantan anggota DPRD Pulau Morotai ini, bahwa di era pemerintah Beni-Asrun Morotai telah diresmikan sebagai Kawasan ekonomi Khusus dan di hari ini pembukaan Festival Morotai 2019 juga sebagai bukti Morotai telah Bangkit untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita mempunyai semangat besar untuk mewujudkan impian kita sebagai destinasi wisata kelas dunia dan sebagai daerah yang pantas mendapat kosentrasi lebih dari pemerintah Pusat.

Asrun menyebutkan, tema Fastival Morotai 2019 yang diusung yaitu Land Of Stories (ragam cerita budaya dan sejarah Morotai) yaitu sejarah perang Dunia Ke II, ragam budaya, ragam pesona keindahan alam, ragam bahasa, dan ragam sumber daya alamnya. Sedangkan Logo atau Moskot pada Festival Morotai Kami memilih Seekor ikan Hiu, dalam bahasa lokal masyarakat menyebut (Gorango) sehinggah maskotnya disebut Gomo atau Gorango Morotai. Hal ini karena Gorango merupakan salah satu ikan yang ada di perairan Morotai serta menjadi penjaga laut.

Pada Festival tahun ini, terang Asrun, menyajikan beberapa item kegiatan untuk menjadi magnet bagi tamu domestik dan manca negara, diantaranya; Pemilihan Jujaru dan Ngongare, Pencarian Bakat Morotai Idol, Kreasi Goyang Morotai, Fun Dive, Gita Bahari, Fishing Morotai, Lomba Kuliner Tradisional, Lomba Mewarnai dan Menggambar anak-anak, Lomba Perahu Hias, Lomba Renang, Boxing Turnamen dan Sepak Bola Cap 2019.

Kegiatan tersebut dirangkai Pameran-Pemaran Progres Pembangunan Lintas Sektor Pemda Kabupaten Pulau Morotai, ini akan di selenggarakan dari tanggal 2-8 Agustus 2019.

Asrun juga mengatakan, selain itu ditampilkan berbagai antaraksi seni budaya dan hiburan rakyat bersama artis ibu Kota yang di mulai resmi pada tanggal 7-8 Agustus 2019. Hiburan tersebut adalah tarian kolosal dan Bambu Hitada Morotai. Kegiatan itu ditargetkan masuk pada rekor MURI 2019 dan Tarian Bambu Hitada akan diundang secara resmi di Istana Negara pada hari peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus 2019.

Disebutkan Asrun, disamping itu Pulau Morotai memiliki 5 jenis potensi wisata. Pertama, Wisata sejarah Pitu Strip/Bandara Peninggalan Perang Dunia II, Zum-Zum Island (Pulau yang di tempati Mc Arthur dalam mengarur strategi perang AS), Air Kaca ( Tempat pemandian tentara sekutu), Dua Buah Tank Ampibi Milik Sekutu, Pantai Armydock, Museum Perang Dunia Ke II, Trikora dan HILL 40 Bukti Pertahanan Terakhir tentara jepang.

Kedua, Wisata Bahari diantaranya Pulau Dodola, Pulau Metita (Dive Spot), Pantai Tanjung Gorango, Pantai Nunuhu Pantai Mutiara, Pulau Galo-Galo, Pulau Ngele-Ngele, Pulau Tabailenge, Moro Madoto Buho-Buho, Pantai Tanjung Sopi, Batu Kopi di Pulau Rao.

Ketiga, Wisata Alam adalah Air Terjun Raja, Air Terjun Kokota, Sungai Pangeo dan Danao.

Keempat Wisata Budaya; Tarian Tokuwela, Tarian Tide-Tide, Tarian Cakalele, Tarian Yosban, Tarian Kuda Lumping, Tarian Soya-soya.

Kemudian yang kelima, Wisata Buatan, yakni Sentra Kuliner, Waterfront City, Aquarium di Desa Juangan.

“Tidak Hanya Mempunyai sejuta keindahan Destinasi Wisata, namun juga mempunyai penduduk dengan suku heterogen dan sejarah Perang Dunia keduaa yang sangat dahsyat hingga namanya menembus dunia,” tutur Asrun.

Oleh karena itu, lanjutnya, selaku Kepala Pemerintahan Daerah dirinya akan terus berkomitmen membangun Morotai melalui Program Inovasi.  Program itu meliputi, pertama, merubah mental Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam birokrasi. Kedua; merubah budaya atau kinerja birokrasi. Ketiga, mempercepat pelayanan dan pembangunan di berbagai sektor. Lalu, keempat; melindungi kearifan lokal. Kelima,  membentuk masyarakat yang berbudi pekerti. Keenam, mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam keagamaan, dan ketujuh memberi ruang untuk pemuda dalam pemerintahan untuk bersama-sama membangun Morotai.

“Sementara tujuan dari pelaksanaan Kegiatan ini yakni Salah satu cara untuk menarik wisatawan luar Negri untuk datang ke Morotai,” kata Asrun menutup pembicaraan. (LIL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here