Atraksi Tarian Kolosal Musikal Porimoi Bambu Hitada dan Aksi Wali Band Sempurnakan Puncak Festival Morotai 2019

0
15
Menpar RI Arif Yahya, memegang piagam rekor MURI di dampingi bupati, wakil bupati, ketua DPRD Morotai dan tim verifikasi rekor MURI. Foto : Halil

KORIDORZINE, MOROTAI– Pemerintah Pulau Morotai patut bersyukur dan berbangga. Pasalnya Puncak Acara Festival Morotai 2019 sukses digelar. Selama 6 hari dari Jumat 2 Agustus hingga Kamis 8 Agustus, menyuguhkan rangkaian acara ragam budaya, sejarah perang dunia II dan atraksi wisata lainnya menjadi kesan tersendiri di hati wisatawan Nusantara maupun Mancanegara. Kemeriahan dan kemegahan festival membuat pengunjung terasa ingin lebih lama lagi menikmati keindahan Pulau Morotai.

Rangkaian ragam tarian seni dan budaya, yang dikemas dalam tarian kolosal musikal Porimoi Morotai, parade perahu hias, hingga pesta kuliner sukses digelar dan menjadi magnet bagi wisatawan Nusantara dan manca negara. Festival ini juga menjadi media promosi untuk lebih mengenalkan Pulau Morotai di mata dunia.

“Saya merasa ini adalah kesempatan terakhir untuk membuka pola pikir masyarakat Morotai, bahwa ternyata mereka punya talenta yang luar biasa dan harus bangga, karena sudah membuktikan dengan sendirinya bahwa mereka punya kesenian yang luar biasa dan harus didukung oleh pemerintah daerah setempat maupun pemerintah pusat, untuk menjadikan media promosi pariwisata Pulau Morotai yang efektif di mata dunia.” Terang ahli koreografer ternama, yang berhasil mengantar Morotai memecahkan rekor dunia, Eko “Pece” Supriyanto.

Para jurnalis pun berkesempatan melihat langsung festival ini bersama rekan-rekan media lain yang tergabung dalam program Pers Tour dari Kementerian Pariwisata RI. Berbagai rangkaian acara telah memeriahkan Festival Morotai 2019 selama 6 hari, ada banyak acara yang sudah dan akan digelar seperti lomba Falo Laor, lomba Gendang Sahur, lomba pawai obor, lomba perahu hias, lomba mancing, lomba renang, lomba pemilihan Jojaru Ngongare, lomba Morotai Idol, lomba gita baharai, lomba cipta menu, turnamen Morotai Boxing, tarian kolosal (Tide-tide, Dana Dana, Lalayon, Soya Soya, Cakalele, Kuda Lumping, tarian Bugis), Bambu Hitada, pameran pembangunan dan sepak bola piala Bupati Cup.

Festival Morotai 2019 dengan tema besar “Land Of Stories” membuat pengunjung atau wisatawan dibawa untuk menelusuri jejak sejarah panjang perang dunia ke-2 di bumi yang kaya akan hasil laut ini. Festival Morotai tahun ini memang meninggalkan berbagai kenangan menarik. Para wisatawan dimanjakan oleh berbagai spot pariwisata, mulai dari keindahan biota laut serta dapat bersama Gorango Morotai (Gomo) melalui diving, kesenian daerah dan kuliner seperti tarian kolosal, bambu Hitada dan cipta menu.

Atraksi tarian kolosal dan musikal porimoi morotai bambu hitada sebanyak 2.624 peserta. Foto : Halil

Puncak acara Festival Morotai digelar di lokasi SAIL, Desa Juanga, pada 7-8 Agustus malam ini adalah panggung di tepian pantai, letaknya dekat dengan Pelabuhan kapal Fery. Panggung ini masuk dalam sejarah Sail Indonesia di Morotai, sebagai panggung permanen di tepian pantai, menakjubkan!

Acara puncak Festival Morotai Land Of Stories adalah pementasan 2.624 peserta. terdiri dari anak SD, SMP, SMA, pemuda dan orang tua, dalam tarian Kolosal Musikal Porimoi Morotai Selama 2 jam. Mereka menampilkan tari Tide Tide, Gala, Dana Dana, Lalayon, Soya Soya, Cakalele, Bambu Hitada dan drama musikal tentang sejarah perang dunia ke-2. Kolosal  Porimoi Morotai sendiri adalah kolaborasi beberapa jenis tarian suku suku dan budaya, baik Suku Tobelo Galela, Jawa, Bugis, Buton, gorap dan lainnya.

Ribuan peserta tersebut memakai pakaian warna-warni sambil diiringi musik khas Pulau Morotai dan musik perjuangan. Permainan tata formasi pesta tarian dan bambu tada pun menambah meriah suasana. Sementara Rabu 7 Agustus malam dimeriahkan dengan pesta rakyat, penampilan artis asal Ambon Mitha Tahilatu dan Yusup penyanyi dangdut jebolan Liga Dangdut Indonesia turut  meriahkan Festival Morotai 2019. Mitha membawakan lagu-lagu terbaiknya, demikian juga Yusuf untuk menghibur wisatawan dan masyarakat Pulau Morotai yang datang di lokasi Sail, Desa Juanga, Kota Daruba, Pulau Morotai.

Kota Daruba sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Pulau Morotai, memiliki luas sekitar 45 km persegi yang berbatasan langsung dengan laut. Daerah dengan pesona alam bawah laut yang indah, berjejeran pulau-pulau di depan Kota Daruba memiliki pasir putih yang halus menambah keindahan Pulau Morotai dan memiliki sumber daya laut yang melimpah. Salah satunya berupa ikan tuna loin yang telah diekspor ke negara Vietnam.

Keindahan alam bawah laut yang terdapat di Pulau Morotai membuat daerah ini memiliki potensi pariwisata bahari yang diminati wisatawan dari berbagai negara, bagi pecinta Wisata bahari.

Festival Morotai 2019 resmi dibuka oleh Wakil Bupati Pulau Morotai Asrun Padoma. Foto: Halil

“Setiap tahun kualitas hotel, homestay dan transportasi terus mengalami peningkatan, hal ini tentu bisa terjadi karena kerja sama semua pihak dan hadirnya pemerintah melayani di tengah rakyat. Saya bersyukur dipercayakannya Morotai menyelenggarakan even nasional ini membuat kunjungan wisatawan terus meningkat dan lebih membanggakan atas kerja keras semua pihak dan rakyat Morotai dalam festival ini membuat Morotai pertama kali memecahkan rekor dunia. Semoga kesuksesan ini menjadi perhatian pemerintah pusat agar pembangunan di Morotai secepatnya diwujudkan ,” terang Bupati Pulau Morotai, Benny Laos.

Pecahkan Rekor MURI Pertama di Dunia

Festival Morotai 2019 mendapatkan penghargaan dari MURI untuk musik Bambu Hitada dengan peserta terbanyak di dunia sebanyak 2019 orang. Foto : Halil

Festival Morotai 2019 Land Of Stories, berhasil mengukir rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor itu diraih atas penggunaan panggung pertujukan tarian kolosal sebanyak 500 orang dan musik Bambu Hitada yang menampilkan pemain sebanyak 2.124 orang.

“Musik Bambu Hitada Festival Morotai 2019 hari ini tidak hanya kami catat sebagai rekor nasional, akan tetapi rekor pada hari ini dengan bangga dan hormat, kami kumpulkankan sebagai rekor dunia dan pencapaian target sebanyak 2019 orang peserta. Tetapi setelah kami verifikasi bahwa hari ini melebihi dari target peserta sebelumnya, yaitu 2.124 peserta pegelaran musik Bambu Hitada terbanyak pertama di dunia,” ungkap Awan Rahargo,  Senior Manager Museum Rekor Dunia Indonesi, sebagai tim verifikasi rekor MURI.

Memiliki Wisata Bahari Kelas Dunia

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjanjikan Festival Morotai kembali akan digelar tahun depan. Foto : Halil

Tahun 2019 adalah tahun pertama Festival Morotai 2019 digelar dengan brand Land Of Stories, di festival ini puluhan kegiatan lomba, budaya, tarian dan sejarah perang dunia ke-2. serta keindahan pulau-pulau dan pantai pasir putih yang menawan salah satunya Pulau Dodola yang memukau mampu membius wisatawan. Di balik kemeriahannya, ternyata Festival Morotai 2019 diselenggarakan karena punya wisata bahari kelas dunia.

“Morotai masuk dalam 100 Calender of Event Kemenpar RI dan terpilih sebagai satu dari 10 Bali baru serta 10 destinasi prioritas dan ditetapkan oleh Presiden karena punya wisata bahari kelas dunia. Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai sukses menyelenggarakan festival ini, untuk saya pastikan tahun 2020 festival Morotai kembali digelar dan kami akan bantu membangun infrastruktur pendukung untuk memajukan Morotai dan mempromosikan ke mancanegara serta ada tiga hal yang dapat memajukan pariwisata Morotai, satu destinasi, kedua pemasaran dan ketiga SDM yang memadai,” papar Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Arief Yahya, saat menghadiri puncak acara Festival Morotai, Rabu 7 Agustus 2019.

Koreografer kelas dunia Eko Supriyanto sukses menyutdarai Festival Morotai 2019 hingga memecahkan rekor MURI. Foto : Halil

Perlu diketahui, suksesnya puncak acara Festival Morotai 2019 dan keberhasilan memecahkan rekor MURI Pertama di Dunia, tidak terlepas dari sentuhan sutradaranya, seorang koreografer kelas dunia Eko “Pece” Supriyanto.

Menurut Eko, kesuksesan meraih rekor MURI bukanlah hal yang mudah, namun membutuhkan kekompakan pada seluruh peserta. Kini mereka berhasil membuktikan itu. Dari kesuksesan ini, musik Bambu Hitada bakal kami promosikan ke tingkat nasional bahkan sampai ke luar negeri.

“Kita berupaya untuk mempromosikan ke tingkat nasional, mengawali saya akan bawa tampil di Istana Negara pada HUT RI ke-74. Promosi ini sangat mungkin karena identitas musik yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain. Kita tampilkan cukup sederhana dan jika diolah lagi lebih serius maka akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita juga mempunyai kesempatan besar untuk mengelilingi dunia. Itu sangat mungkin terjadi karena Bambu Hitada hanya ada di Pulau Morotai,” papar Eko.

Puncak Festival Morotai Land Of Stories, pada Kamis 8 Agustus 2019 malam berlangsung sukses dan meriah. Masyarakat Morotai kembali dihibur dengan artis papan atas group Wali Band dalam acara Pesta Rakyat.

Wali band tampil memukau kurang lebih 5000 penonton di puncak Festifal Morotai. Foto : Halil

Wali Band tampil dengan 9 lagu hits-nya yang akrab di telinga masyarakat membuat lokasi sail bergemuruh. Para penonton histeris meneriakkan nama group Wali Band dan turut sama-sama menyanyikan lagu-lagu bergenre pop kreatif dan inovatif, sehingga lengkaplah kesuksesan dan kemeriahan atas penyelenggaraan Festival Morotai 2019.

Sekretaris Daerah Kabupaten Morotai yang juga sebagai ketua Penyelenggara Festival Morotai 2019, Muhammad M Kharie. Foto : Halil

Ketua penyelenggara Festival Morotai Land Of Stories, Muhammad M Kharie, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak. Karena atas kerja keras dan kerja sama yang baik dapat terwujudnya calender of event yang telah ditetapkan panitia.

“Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Pulau Morotai serta ketua penyelenggara Festival Morotai 2019, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam even nasional ini, sehingga sukses dan meriahnya penyelenggaraannya dan lebih membanggakan selain dapat hibur masyarakat, menarik para wisatawan ke Morotai, meningkatkan pendapatan pengendara angkutan umum, para pedagang kecil dan pengusaha penginapan dan hotel, juga berhasil memecahkan rekor MURI dengan pemain musik tradisional Bambu Hitada terbanyak pertama di dunia,” tutur Muhammad M Khairie.

Untuk itu, tambah M Kharie, mengakhiri even nasional Kemenpar RI Festival Morotai yang pertama kali diselenggarakan Pemkab Pulau Morotai, sukses diselenggarakan, sehingga mendapat respon sangat positif dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. “Secara keseluruhan pencapaian ini terus dievaluasi dan ditingkatkan, sehingga pada festival-festival berikutnya akan lebih baik lagi,” tutup Muhammad M Khairie. (Advetorial)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here