Puluhan Perwakilan Peserta Bambu Hitada Datangi Kediaman Bupati Menuntut Uang Saku yang Dijanjikan

0
19
Puluhan perwakilan peserta pagelaran musik Bambu Hitada mendatangi kediaman Bupati Morotai untuk meminta pembayaran uang saku. Foto : Halil

KORIDORZINE, MOROTAI– Puluhan Perwakilan Peserta Musikal Porimoi Morotai Bambu Hitada yang berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Morotai Jaya, pulau Morotai, gelar aksi unjuk rasa di depan kediaman bupati, desa yayasan, Jumat 9 Agus 2019. menuntut uang saku mereka yang di janjikan pemkab pulau Morotai tetapi belum diberikan

Teridentifikasi aksi tersebut dilakukan warga Morotai Jaya dari empat desa yakni Desa Pangeo, Loleo, Gorugo dan Toara, dengan perwakilan berjumlah sekitar 50 orang menuntut uang saku peserta Musik Bambu Hitada Festival Morotai 2019 yang berjumlah 400 orang

Perwakilan Masa aksi ini nekat berjalan kaki dari tempat tinggal mereka di desa wawama ke kediaman Bupati di desa yayasan dengan menempuh jarak kurang lebih 4 KM. Utusan massa aksi dari empat desa diantaranya, Desa Lolelo, Desa Toara, Desa Pangeo dan Desa Gorugo, dipimpin oleh Aljufri sebagai Korlap asal Desa Pangeo, untuk menuntut kejelasan uang saku yang telah dijanjikan pemkab kepada masyrakat peserta bambu tada

Korlap, Aljufri, menyampaikan
sebelum pelaksanaan Festival Morotai 2019, Pemda melalui Dispar telah menyampaikan dalam penyluhan ke desa desa bahwa setiap peserta yang terlibat dalam pertunjukan Musik Bambu Tada akan diberikan uang saku sebesar Rp. 250.000 per-orang, akan tetapi setelah pelaksanaan kami menanyakan kepada instansi terkait dalam hal ini dinas PMD dan dinas pariwisata namun, hingga saat ini belum ada kejelasan, sehingga kami berinisiatif untuk datang ke kediaman Bupati Morotai dengan Maksud untuk menanyakan kejelasan uang saku,

Kami juga mendapat informasi, kata Aljufri, yang disampaikan pihak DPMD bahwa uang saku sebesar Rp.250.000 akan dipotong biaya makan dan tempat tinggal sebesar Rp.100.000 per-orang sehingga uang saku yang diterima sisa Rp.150.000, per-orang

“Kami sangat menyayangkan hal ini karena seharusnya masalah tempat tinggal dan konsumsi harusnya ditanggung oleh Panitia penyelenggara bukan dibebankan kepada masyarakat peserta Musik Bambu Tada,” semburnya

“Seluruh peserta aksi meminta agar masalah uang saku segera ditindaklanjuti karena jika tidak, kedepannya kami dari masyrakat sudah tidak mau lagi dilibatkan dalam kegiatan – kegiatan seperti ini.” Semburnya

Kepala Desa Loleo, Morotai Jaya, Abdul Totou, saat di konfirmasi, menjelaskan sebenarnya aksi ini tidak dilakukan. Karena terkait uang saku itu dijanjikan langsung oleh salah satu ASN di Dinas Pariwisata sebutlah Jefri, saat turun ke desa desa mencari peserta bambu hitada. Atas dasar itu, kata Dul, usai tampil seluruh peserta asal Morotai jaya mau kembali ke desa masing masing, mereka menghubungi kadis pariwisata pada Kamis 8 Agustus 2019, hanya kadis pariwisata Nona N Duwila, beralasan anggaran tersebut ada di DPMD.

Nah, ditambahkan Dul. korlap asal desa pangeo, namanya Jufri, ketemua pihak DPMD pertanyakan uang tersebut. Tetapi DPMD beralasan uang itu ada di Dinas Pariwisat. Jufri kembali ketemu Kadis Non Duwila dan di janjikan sore diberikan. Sehingga Jufri meminta paling lambat jam 7 malam.

Sangat disayangkan kesal kades Loleo, sampai malam pun tidak ada info dari kadispar. Sehingga Jumat 9 Agustus 2019 pagi ini mereka berinisiatif mendatangi rumah bupati guna mempertanyakan uang saku yang di janjikan.

“Soal besaran uang saku saya tidak tau, mungkin Jufri saat itu yang dengar penyampaian dari Jefri dari dispar, sehingga tau besaranya uang saku dan untuk peserta dari 4 desa jumlah totalnya 400 orang,” ujarnya

Sementara ketua penyelenggara Muhammad M Kharie, saat di konfirmasi, Jum’at 9 Agus Tus 2019, membenarkan ada janji tersebut. Namun, membantah tidak sebesar yang disebutkan.

“Memang benar akan diberikan uang saku tersebut tapi perorang tidak sebesar itu. Jadi tetap di berikan jadi bersabar. Karena kita selesaikan beban eksternal dulu baru yang di dalam Morotai. Berhubung anggaran tuk festival Morotai ini dianggarkan melalui APBD Perubahan. Jadi butuh kesabaran karena Pemkab tetap menyelesaikan semuanya,” terangnya. (LIL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here