Wapres JK : Pancasila Harus Mudah Difahami

0
11
Wapres JK Membuka Kongres Pancasila XI di UGM Yogyakarta.

Memahami Pancasila dewasa ini seolah dianggap barang asing bagi generasi milenial. Entah karena dianggap kurang kekinian atau mungkin lantaran salah pemaknaan dari ‘modern’ itu sendiri. Miris memang.

Seminar, penataran, atau hal sejenis dianggap barang jadul. Lantaran hal itulah perlu adanya strategi untuk membumikan kembali Pancasila di kalangan generasi muda.

Pancasila jangan dibuat menakutkan atau sulit pemahamannya. Harus dibuat mudah dan siapaun lekas faham maknanya. Untuk kemudian mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan tidak perlu terlalu rumit dalam memaknai Pancasila, yakni pahami tujuan dan pondasi dasar dari Dasar Negara tersebut.

“Sederhana saja dan tidak perlu yang rumit-rumit. Pancasila merupakan pondasi, dan tentunya pondasi ada tujuannya. Tujuan kita adalah mencapai masyarakat yang adil dan makmur, supaya masyarakat memahami itu,” kata Jusuf Kalla saat menjadi pembicara kunci pada Kongres Pancasila ke XI di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (15/8/2019).

Wapres JK memaparkan, dalam perkembangan sejarah, masing-masing pemimpin memaknai Pancasila dan menjadikan sebagai dasar dalam menjalankan pemerintahan.

Meskipun demikian kadang kali pemaknaannya yang berbeda-beda. Para pemimpin masing-masing memiliki tafsir dan pelaksanaannya sendiri.

Wapres JK menyebutkan, Presiden Pertama RI Soekarno sebagai penggali Pancasila tentunya paling berhak dalam penafsirannya.

“Jaman Bung Karno ada Demokrasi Terpimpin, ada Ekonomi Terpimpin. Namun ini menjadikan otoriter dan tidak sesuai Sila keempat dari Pancasila,” ujar Wapres JK.

Pada Era Presiden Soeharto, lanjut Wapres JK, seluruh bangsa didoktrin nilai Pancasila melalui Penataran P4.

“Tapi saya waktu itu sebagai pengusaha tidak wajib ikut Penataan P4. Hanya saja untuk bisa menjadi rekanan Pertamina harus memiliki sertifikat P4, sehingga ikut penataran,” kata Jusuf Kalla yang disampaikan dengan nada bercanda.

Pada kenyataannya, lanjut JK, meski telah menggunakan Pancasila, Sukarno jatuh, Soeharto juga jatuh. Mengapa demikian, karena tujuan dari Pancasila tidak tercapai. Adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia belum terwujud. Persatuan Indonesia juga masih ada kendalanya.

“Harus sesuai dengan pondasi. Jika perilaku pemimpin tidak sesuai dengan tujuan dari Pancasila,” tandas Waprws JK.

Pengusaha nasional ini juga berpesan, dalam Kongres Pancasila ke XI ini, dibahas yang sederhana saja, dan mudah dipahami masyarakat luas.

“Kongres sudah sebelas kali, selama ini yang dibahas apa saja. Jangan sampai makin dibahas dan semakin diulas, justru semakin bingung padahal sederhana,” canda Wapres JK.

Ia mengatakan, sejak Indonesia merdeka, selama 74 tahun sudah terjadi 15 kali konflik besar yang korbannya mencapai ribuan masyarakat.

“Tercatat ada peristiwa Permesta, Aceh, Poso, Ambon dan lainnya. Termasuk juga DI/TII, ini persoalannya karena merasa adanya ketidakadilan,” katanya.

Wapres JK menandaskan, janganlah Pancasila dianggap sulit, dan jangan dipersulit juga. Semakin sederhana orang membahas Pancasila, semakin banyak masyarakat yang memahami.

“Namun semakin dipersulit, semakin banyak yang bingung. Semoga kongres dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang mudah dipahami masyarakat luas,” katanya.(UC/KP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here