Soal Papua, Rizal Ramli Minta Pemerintah Introspeksi

0
15
Dr. Rizal Ramli, ekonom dan juga pengamat politik. Ia menekankan agar pemerintah introspeksi dan memperbaiki kesalahan penerapan kebijakan di Papua. Foto : Ist

KORIDORZINE, JAKARTA – Papua dan Papua Barat bergolak. Bak bola liar, isunya menggelinding kesana kemari. Termasuk salah satunya keinginan warga Papua dan Papua Barat untuk merdeka.

Melihat perkembangan ini, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, sudah saatnya pemerintah introspeksi. Ia mengatakan, ada rasa ketidakadilan masyarakat Papua dan Papua Barat selama ini.

Rizal yang menjadi salah satu pemateri dalam diskusi “Ngobrol Bareng tentang Papua” di Jakarta, Senin (26/8), menambahkan, Papua dan Papua Barat merupakan keluarga kita. Mereka harus dirangkul, seperti halnya saat Pemerintahan almarhum K.H. Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur lampau.

“Saya seperti halnya Gus Dur kalau ada teman-teman dari Papua, bilang pengen merdeka. Saya anggap teman-teman ini saudara sendiri, keluarga sendiri, kalau ada anak-anak kita mau keluar rumah, enggak mau di sini lagi, masa mau kita usir, masa mau kita bilang silakan. Justru kita pakai alat untuk intropeksi. Saya sebagai orang tua sudah benar belum, sudah adil belum, saya perhatikan anak-anak saya sama atau enggak,” ujar Rizal Ramli.

Saat itu, Gus Dur tak mempersoalkan ucapan masyarakat Papua yang ingin merdeka. Mereka malah dirangkul, kemudian diajak ngobrol, apakah ada yang salah selama ini. RR, begitu Rizal Ramli kerap disapa, menandaskan perlunya introspeksi dan pembenahan apabila ada pendekatan yang kurang tepat terhadap Papua (dan Papua Barat,-red).

Subsidi ke Rakyat Papua Sampai?

RR juga menyoroti soal subsidi yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Papua. Ia mengungkapkan, sekitar Rp62 triliun telah diberikan ke warga Papua. Namun, diduga subsidi tersebut tidak sampai.

Lantaran hal itulah, RR mengusulkan agar subsidi kepada rakyat Papua itu diberikan secara langsung kepada warga Papua. Misalnya saja ada semacam ATM atau alat semacamnya untuk pencairannya.

Hal tersebut telah diterapkan di Alaska, Amerika Serikat. Di sana, lanjut RR, penduduk aslinya Indian. Kekayaan alamnya juga melimpah, diantaranya minyak dan gas bumi. Masyarakat di Alaska diberikat ATM, dan pemerintah setiap bulannya menyalurkan subsidinya langsung kepada mereka.

RR menghitung, jika subsidi pemerintah sebesar Rp 62 triliun itu dibagi kepada 3,5 juta penduduk Papua, setidaknya setiap warga Papua akan menerima uang subsidi sebesar Rp 17,7 juta per bulan.

“Hari ini kalau Rp 62 triliun dibagi 3,5 juta orang itu hampir Rp 17,7 juta per orang. Tapi rakyatnya (saat ini) tidak dapat apa-apa. Saya betul-betul tidak terima dan marah, ini sumber ketidakadilan luar biasa,” tandas RR. (RED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here